Kamis, 16 Januari 2014

Harus Lebih Gigih Lagi!


Di tahun baru 2014 ini gue berharap semuanya menjadi lebih baik..aamiin.

Gue udah selesai kursus Bahasa Inggris di BLK kurang lebih satu tahun yang lalu. Eh? Kok satu tahun, perasaan cuma tiga bulan deh, haha. Kira-kira satu bulan yang lalu gue selesai kursus.
Dan untuk saat ini gue berniat untuk mencari kerja. Iya kerja!

Satu minggu yang lalu tepatnya hari Kamis, 9 Januari 2014, gue, Anya, Fitroh, dan Imas mencoba peruntungan kami untuk ikut jobfair di Istora Senayan yang diselenggarakan oleh jobforcareer.com. berkas-berkas dan persyaratannya udah kita siapin jauh hari sebelum hari H. Begitu hari H, kita ketemuan di shelter busway Pasar Rebo. Ketika gue sampe disana gue liat Imas yang lagi nungguin gue. Lalu kita beli karcis dan masuk ke dalam shelter. Kita nunggu beberapa menit sampe bus dateng. Di sekeliling terlihat banyak orang yang menunggu bus. Bus pun datang, bus yang datang saat itu kosong –tapi tetep ada supir dan petugas penjaga pintu, yakali busnya jalan sendiri– Sehingga orang-orang berebut masuk ke dalam bus untuk mendapatkan tempat duduk. Tapi nggak dengan gue dan Imas, kita nunggu bus selanjutnya dimana ada Anya yang udah naik duluan dari shelter busway sebelumnya. Nggak lama, bus yang ada Anya-nya pun datang. Gue dan Imas masuk ke dalam bus, Anya menyambut gue dan Imas dengan senyum gembira.

Kita gak kebagian tempat duduk, so kita berdiri sambil ngobrolin beberapa hal setelah beberapa waktu gak ketemu. “Oleh-olehnya mana?”, kata gue menodong Anya yang baru pulang dari kampungnya, Salatiga. “Ada nih, di tas.”, kata Anya sambil nepuk-nepuk tasnya.

Trans Jakarta melaju sangat lambat karena..ya macet. Akhirnya kita bertiga sampai di shelter busway PGC. Di sana kita bertiga bertemu Fitroh, kelihatannya dia sudah lelah menunggu. Bus yang ditunggu datang, kita berempat naik bus ke arah Harmoni.

Singkat cerita, karena kita nggak tau harus transit di mana lagi, kita nanya sama Kak Tony yang udah sering pergi kemanapun naik Trans Jakarta, kita nanya lewat telpon. Kak Tony bagaikan kompas berjalan, begitulah kalau dianalogikan. Kak Tony bilang dia mau nyamperin kita. Jadi kita nunggu di Harmoni selama beberapa puluh menit. Sambil nunggu, Anya mengeluarkan oleh-oleh yang dibawanya. “Ini apaan Nya?”, kata Fitroh bingung. Dia memegang oleh-oleh yang dibawa Anya seperti baru menemukan benda kuno bersejarah beberapa abad yang lalu. “Itu enting-enting. Dari kacang.”, kata gue memberitahu Fitroh tentang oleh-oleh yang dibawa Anya. “Ooh, aku baru tau.”, kata Fitroh. Sementara Imas diam, dia memperhatikan handphone-nya. “Oh iya Lin, aku punya video yang waktu itu aku certain.”, kata Imas yang duduk disamping gue. Imas memperlihatkan video yang berisi tentang tawuran dini hari di depan GOR Ciracas yang terjadi beberapa hari yang lalu. Kemudian kita berargumen tentang video itu. Gue yang sudah selesai berargumen pun melihat sekeliling. Gue bengong menatap seseorang yang datang, seakan gak percaya, “Itu Kak Tony!”. Yang lain nengok ke arah Kak Tony. Akhirnya yang ditunggu datang juga!

Kemudian kami berdiri, mengantre, menunggu bus selanjutnya. Kak Tony menjelaskan, harus transit di mana supaya bisa sampai di Senayan. Di tengah antrean dan di tengah pembicaraan kami, ada laki-laki yang ikut nimbrung, sepertinya dia mendengar pembicaraan kami. Dan sepertinya dia juga akan menuju tempat yang sama. Dia meminta izin untuk pergi bersama kami sampai Istora Senayan.

Setelah bus datang, kita berlima masuk kedalamnya. Laki-laki yang ikut nimbrung tadi, juga masuk, kayaknya dia bawa seorang teman. Kita berlima masih ngobrol-ngobrol. Entah dari shelter cabang mana ada beberapa bule masuk ke dalam bus. Tapi bukan bule Parijem ya haha, tau dah bulek Parijem itu siapa, asal ketik aja gue. Maksudnya turis asing dari luar negeri. Salah satu dari bule itu berdiri di dekat gue. Gilak, tinggi banget!

Gak lama setelah bule itu masuk ke dalam bus, kita berempat turun dari bus. Sementara Kak Tony gak ikut turun, dia mau pergi ke Brother Land alias Tanah Abang untuk membeli sesuatu.

Singkat cerita, kita udah sampe di shelter busway Senayan, lalu kita nyebrang lewat jembatan penyeberangan. Di seberang jalan ada banyak orang berkerumun. Sebenernya kita gak tau Istora Senayan ada di sebelah mana. Tapi karena banyak orang yang pergi ke satu tempat, ya udah kita ikutin. Ternyata udah banyak kendaraan yang terparkir di tempat parkir. Kita jalan menuju kerumunan orang yang sedang mengantre untuk membeli tiket masuk. Salah satu dari kami mengusulkan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu, lalu kita berempat pergi ke toilet yang ada di lantai 2. Gue sih gak pengen pipis, ya udah gue nunggu di luar. “Drt..drt..drrtt”, handphone gue geter-geter. Ada sms dari Kak Tony yang isinya: “Sukses ya buat Arlin dkk buat apply jobnya…okeyyy :)”. Setelah membalas sms itu, kita berempat balik lagi ke tempat yang tadi.