Di tahun baru 2014 ini gue
berharap semuanya menjadi lebih baik..aamiin.
Gue udah selesai kursus
Bahasa Inggris di BLK kurang lebih satu tahun yang lalu. Eh? Kok satu tahun,
perasaan cuma tiga bulan deh, haha. Kira-kira satu bulan yang lalu gue selesai
kursus.
Dan untuk saat ini gue
berniat untuk mencari kerja. Iya kerja!
Satu minggu yang lalu
tepatnya hari Kamis, 9 Januari 2014, gue, Anya, Fitroh, dan Imas mencoba
peruntungan kami untuk ikut jobfair di Istora Senayan yang diselenggarakan oleh
jobforcareer.com. berkas-berkas dan
persyaratannya udah kita siapin jauh hari sebelum hari H. Begitu hari H, kita
ketemuan di shelter busway Pasar Rebo.
Ketika gue sampe disana gue liat Imas yang lagi nungguin gue. Lalu kita beli
karcis dan masuk ke dalam shelter.
Kita nunggu beberapa menit sampe bus dateng. Di sekeliling terlihat banyak
orang yang menunggu bus. Bus pun datang, bus yang datang saat itu kosong –tapi tetep
ada supir dan petugas penjaga pintu, yakali busnya jalan sendiri– Sehingga
orang-orang berebut masuk ke dalam bus untuk mendapatkan tempat duduk. Tapi
nggak dengan gue dan Imas, kita nunggu bus selanjutnya dimana ada Anya yang udah
naik duluan dari shelter busway
sebelumnya. Nggak lama, bus yang ada Anya-nya pun datang. Gue dan Imas masuk ke
dalam bus, Anya menyambut gue dan Imas dengan senyum gembira.
Kita gak kebagian tempat
duduk, so kita berdiri sambil
ngobrolin beberapa hal setelah beberapa waktu gak ketemu. “Oleh-olehnya mana?”,
kata gue menodong Anya yang baru pulang dari kampungnya, Salatiga. “Ada nih, di
tas.”, kata Anya sambil nepuk-nepuk tasnya.
Trans Jakarta melaju sangat
lambat karena..ya macet. Akhirnya kita bertiga sampai di shelter busway PGC. Di sana kita bertiga bertemu Fitroh,
kelihatannya dia sudah lelah menunggu. Bus yang ditunggu datang, kita berempat
naik bus ke arah Harmoni.
Singkat cerita, karena kita
nggak tau harus transit di mana lagi, kita nanya sama Kak Tony yang udah sering
pergi kemanapun naik Trans Jakarta, kita nanya lewat telpon. Kak Tony bagaikan
kompas berjalan, begitulah kalau dianalogikan. Kak Tony bilang dia mau
nyamperin kita. Jadi kita nunggu di Harmoni selama beberapa puluh menit. Sambil
nunggu, Anya mengeluarkan oleh-oleh yang dibawanya. “Ini apaan Nya?”, kata
Fitroh bingung. Dia memegang oleh-oleh yang dibawa Anya seperti baru menemukan
benda kuno bersejarah beberapa abad yang lalu. “Itu enting-enting. Dari
kacang.”, kata gue memberitahu Fitroh tentang oleh-oleh yang dibawa Anya. “Ooh,
aku baru tau.”, kata Fitroh. Sementara Imas diam, dia memperhatikan handphone-nya. “Oh iya Lin, aku punya
video yang waktu itu aku certain.”, kata Imas yang duduk disamping gue. Imas
memperlihatkan video yang berisi tentang tawuran dini hari di depan GOR Ciracas
yang terjadi beberapa hari yang lalu. Kemudian kita berargumen tentang video
itu. Gue yang sudah selesai berargumen pun melihat sekeliling. Gue bengong
menatap seseorang yang datang, seakan gak percaya, “Itu Kak Tony!”. Yang lain
nengok ke arah Kak Tony. Akhirnya yang ditunggu datang juga!
Kemudian kami berdiri,
mengantre, menunggu bus selanjutnya. Kak Tony menjelaskan, harus transit di
mana supaya bisa sampai di Senayan. Di tengah antrean dan di tengah pembicaraan
kami, ada laki-laki yang ikut nimbrung, sepertinya dia mendengar pembicaraan
kami. Dan sepertinya dia juga akan menuju tempat yang sama. Dia meminta izin
untuk pergi bersama kami sampai Istora Senayan.
Setelah bus datang, kita
berlima masuk kedalamnya. Laki-laki yang ikut nimbrung tadi, juga masuk,
kayaknya dia bawa seorang teman. Kita berlima masih ngobrol-ngobrol. Entah dari
shelter cabang mana ada beberapa bule
masuk ke dalam bus. Tapi bukan bule Parijem ya haha, tau dah bulek Parijem itu
siapa, asal ketik aja gue. Maksudnya turis asing dari luar negeri. Salah satu
dari bule itu berdiri di dekat gue. Gilak, tinggi banget!
Gak lama setelah bule itu
masuk ke dalam bus, kita berempat turun dari bus. Sementara Kak Tony gak ikut
turun, dia mau pergi ke Brother Land
alias Tanah Abang untuk membeli sesuatu.
Singkat cerita, kita udah
sampe di shelter busway Senayan, lalu kita nyebrang lewat jembatan penyeberangan. Di
seberang jalan ada banyak orang berkerumun. Sebenernya kita gak tau Istora
Senayan ada di sebelah mana. Tapi karena banyak orang yang pergi ke satu tempat,
ya udah kita ikutin. Ternyata udah banyak kendaraan yang terparkir di tempat
parkir. Kita jalan menuju kerumunan orang yang sedang mengantre untuk membeli
tiket masuk. Salah satu dari kami mengusulkan untuk pergi ke toilet terlebih
dahulu, lalu kita berempat pergi ke toilet yang ada di lantai 2. Gue sih gak
pengen pipis, ya udah gue nunggu di luar. “Drt..drt..drrtt”, handphone gue geter-geter. Ada sms dari
Kak Tony yang isinya: “Sukses ya buat Arlin dkk buat apply jobnya…okeyyy :)”. Setelah membalas sms itu, kita berempat
balik lagi ke tempat yang tadi.