Rabu, 25 April 2018

KARTINI TELADAN HIJRAH, BUKAN TELADAN EMANSIPASI

Berikut ini adalah tulisan mbak Deasy Rosnawati, S.T.P

Saya copy di sini karena tulisan beliau bagus, semoga tulisan beliau bisa meluruskan pemahaman kita yang salah tentang ibu Kaartini selama ini. 


KARTINI TELADAN HIJRAH, BUKAN TELADAN EMANSIPASI

Oleh: Deasy Rosnawati, S.T.P

Kartini itu teladan hijrah bukan teladan emansipasi. Pada awalnya, kartini adalah perempuan yang galau terhadap agama islam yang dianutnya. Kegalauan ini dapat kita rasakan dalam kutipan surat yang beliau kirim kepada Stella Zihandelaar, pada 6 November 1899.

“Mengenai agamaku, islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?
Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap muslim. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Disini, orang belajar al-qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.
Aku pikir, tidak menjadi orang yang saleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?”

Tidak hanya kepada Stella, Kartini mengungkapkan kegalauan hatinya. Dalam surat tertanggal 15 Agustus 1902, Kartini pun bertutur galau pada Ny Abendanon
“Dan waktu itu, aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yangtidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca al-qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.
Jangan-jangan guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.”

Kegalauan Kartini, terjawab. Allah menakdirkan beliau bertemu Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang –yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Pertemuan Kartini dengan Kyai Sholeh Darat berhasil mengubah pemikiran Kartini dan menghilangkan kegalauannya terhadap islam, agamanya.

Dalam kisah yang ditulis oleh Ny Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat; Kartini berjumpa dengan Kyai Sholeh Darat di kediaman Pangeran Ario Hadiningrat, Bupati Demak yang juga pamannya.
Pada saat itu, Kyai Sholeh Darat memberi ceramah tentang tafsir al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
Ini bisa dipahami, karena selama ini kartini hanya tahu membaca surat al-Fatihah tanpa mengerti 
 maknanya.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menjumpai Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa menolak, karena Kartini merengek seperti anak kecil. Saat bertemu Kyai Sholeh Darat, Kartini berkata,
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” pertanyaan yang membuat sang Kyai tertegun, dan mejawab dengan pertanyaan juga. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat al-Fatihah, surat pertama dan induk al-qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku.”
“Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun aku heran, mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-qur’an ke dalam bahasa Jawa. Bukankah al-qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di sini. Kyai Sholeh Darat tak bisa berkata apa-apa selain berucap subhanallah. Kartini berhasil menggugah kesadaran sang Kyai untuk melakukan pekerjaan besar berupa menterjemahkan al-qur’an ke dalam bahasa Jawa.

Setelah pertemuan tersebut, Kyai Sholeh Darat pun menterjemahkan al-qur’an ayat demi ayat, juz demi juz hingga 13 juz. Kitab terjemahan itu, lantas diserahkan kepada Kartini sebagai hadiah pernikahannya. Dan Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.
Berbekal kitab itu, Kartini mempelajari Islam dengan serius. Dari surat al-fatihah hingga surat Ibrahim. Sayangnya, Kyai Sholeh Darat wafat. Hingga kartini pun tak sempat menghatamkan ngajinya.

Meski begitu, ada sebuah ayat yang begitu sangat menyentuh kalbunya. Surat al-Baqarah (2) ayat 257, “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…”

Minadz-zulumati ilan-nuur, dari kegelapan menuju cahaya. Kartini menuliskan makna kalimat dalam ayat ini ke bahasa Belanda “Door Duisternist Tot Licht” yang diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Inilah perjalanan hijrah Kartini, yang mampu mengubahnya menjadi sosok manusia baru, dengan pemikiran dan pandangan yang baru. Perubahan ini dapat kita rasakan dalam surat-surat yang ia kirimkan berikutnya. Misalnya dalam surat yang ia kirim 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon,

“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal dibalik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.
 Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa atau orang Jawa kebarat-baratan.”

Lalu, dalam surat Kartini bertanggal 1 Agustus 1903 untuk Ny Abendanon, Kartini menulis, “ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.”

Dengan merenungi kisah ini, kita bisa menemukan siapa sosok Kartini sesungguhnya. Kartini adalah pribadi yang mepesona. Pribadi pembelajar, cerdas, berani, santun dan kritis. Kepribadian yang menghantarkan dirinya layak dijadikan teladan perempuan kekinian.
Sayangnya, keteladanan pada Kartini sering disalahartikan. Sifat kritisnya dan perhatiannya terhadap pendidikan perempuan, diklaim sepihak sebagai sebuah spirit emansipasi perempuan. Hingga beliau dijadikan teladan emansipasi.

Padahal, perhatian beliau terhadap perempuan bukan berangkat dari keinginan emansipasi, melainkan keinginan beliau memiliki gelar terbaik yaitu sebagai hamba Allah. Dan beliau ingin kaum perempuan mengikuti jejaknya dalam hijrah.

Wallahua’lam.

--------------------------


Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Ibu Kartini adalah:


1. Sebagai calon pendidik generasi Islam, kita harus menyampaikan sejarah yang benar.
Pendidik yang sudah mengetahui tentang kebenaran sejarah Ibu Kartini wajib menyampaikan sejarah yang benar ke peserta didik dan ke masyarakat pada umumnya. Sehingga pada saat refleksi hari Kartini, yang kita lakukan bukan hanya mengadakan perlombaan memakai kebaya saja meskipun memakai kebaya pada hari itu boleh-boleh saja dengan syarat memenuhi syari'at Islam dengan kebaya yang berbentuk jilbab, mengenakan kerudung, tidak membentuk lekuk tubuh, serta tidak tabarruj. 

2. Kegigihan dalam mencari ilmu agama.
Yang patut kita contoh dari Ibu Kartini adalah kegigihan beliau dalam mencari ilmu agama. Beliau menginginkan perempuan pada saat itu bisa belajar sama seperti kaum laki-laki, dan Islam pun sangat menganjurkan perempuan belajar karena perempuan adalah madrasatul ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya. Perempuan bersekolah yang tinggi bukan untuk bersaing dengan laki-laki, tapi untuk membangun peradaban.


3. Membudayakan literasi (membaca dan menulis)
Bagaimana bisa kita tau apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh Ibu Kartini jika beliau nggak menuliskan apa yang beliau pikirkan? Iya kan? Kita juga nggak akan tau fakta tentang beliau yang sesungguhnya kalo nggak ada bukti dari beliau kan?
Jadi kita juga harus berlatih untuk membaca dan menulis untuk menyampaikan kebenaran. Apa lagi untuk menyampaikan kebenaran Islam. Wajib banget itu.


Sekian yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bishowab.

Minggu, 22 April 2018

Why Should I Write?




Kenapa sih kita harus nulis?

Kalau pertanyaan itu ditanyakan ke saya mungkin saya butuh waktu yang agak lama untuk menjawabnya.


Padahal nulis kan udah jadi bagian hidup kita sehari-hari. Tapi kenapa ketika pertanyaan itu ditanyakan ke kita, malah membuat kita bertanya-tanya ya? Hehe (Nggak usah ketawa :D)

Sebenarnya dari masa SD saya memang sudah suka nulis, biasalah tulisan anak SD, tuker-tukeran biodata, curhat nggak jelas, dan sebagainya. Masa SMP dan SMK juga masih suka nulis, nulis diary daily activity gitu. Yang paling sering itu pas masa SMK, sempet ngeblog juga meskipun setelah saya baca ulang lebih banyak tulisan alay dibanding tulisan berfaedah :D


Dulu hampir selalu nyediain waktu buat nulis meskipun nulis tulisan yang kurang penting sekali pun, meskipun belum selesai tapi harus dilanjutin. Sampai pada suatu saat saya nggak nulis diary lagi selama bertahun-tahun hingga sulit rasanya untuk mulai nulis lagi meskipun hanya nulis diary.

Saya sendiri sadar pentingnya menulis. Salah duanya untuk menebar manfaat dan pengalaman. Pernah suatu hari saya tulis beberapa alasan kenapa saya harus menulis, tapi lagi-lagi saya mangkir untuk produktif nulis :D


That’s why I joined Revowriter. Saya butuh berkumpul dengan orang-orang yang sepemikiran untuk menulis, butuh orang-orang yang saling mendukung dalam hal menulis. Terlebih lagi ketika saya mempelajari Islam secara rutin. Dari hasil belajar itu saya tahu bahwa dulu Islam mengalami kemunduran bahkan hingga keruntuhan institusi negaranya hanya karena opini umum yang dibuat oleh para penjajah. Mereka menyebarkan opini sesat tentang Islam di majalah-majalah, dan di koran-koran. Mereka tidak lagi menjajah ummat Islam melalui fisik, melainkan menjajah melalui pemikiran dan hal tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Bukankah sudah menjadi tugas kita yang terlebih dahulu tahu tentang ajaran Islam untuk memberi tahu kepada orang-orang yang belum tahu?


Berdakwah adalah cara untuk menyampaikan ajaran Islam, baik melalui lisan atau tulisan. Di era yang serba modern ini hampir semua orang mudah untuk mengakses informasi melalui berbagai media, termasuk melalui sosial media dan portal berita online. Di situlah kesempatan kita untuk menulis tentang ajaran Islam. Jangan biarkan musuh-musuh Islam menyerang pemikiran ummat Islam dengan paham-paham yang bertentangan dengan ajaran Islam.


Menulislah untuk menolong agama Allah. Bayangkan jika dulu Zaid bin Tsabit tidak menulis ayat-ayat Al Quran, Syaikh Taqiyuddin dan Imam Malik tidak menulis kitab atas ilmu yang telah mereka pelajari, akankah sampai ajaran Islam kepada kita saat ini? Menulis adalah untuk menyampaikan ilmu yang kita miliki. Siapa pun yang memiliki ilmu bisa menulis bahkan wajib menulis, begitu kata Mbak Asri Supatmiati.


Menulislah untuk mengenalkan Allah. Meminjam istilah Ust. Felix Siauw; kenalkan Allah bukan kenalkan kita. Dari sini memang niat awal menulis harus karena Allah, jangan sampai ada niat lain misalnya ingin terkenal, ingin cari banyak followers atau likers. Ketika tulisan kita dibaca, dilike, dan dishare banyak orang, kita pasti senang, itu manusiawi, tapi jangan sampai kalau tulisan kita nggak ada yang baca, like dan share kita jadi nggak mau nulis. Teruslah menulis dan berharaplah hanya pada Allah. Mbak Asri bilang bahwa setiap jenis tulisan pasti ada pembacanya, jadi jangan putus asa untuk terus menulis.


Dari semua keterampilan berbahasa, menulis adalah yang paling berat karena membutuhkan ketajaman berpikir dan daya analisa yang tinggi. Selain itu, menulis juga berat karena tanggung jawabnya dunia akhirat, jadi yang kita sampaikan melalui tulisan haruslah sebuah kebenaran. Standar kebenaran itu ada pada Yang Maha Benar yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, pada syari’at Islam. Jangan sampe nih kita menuliskan sesuatu yang nggak benar dan nggak sesuai fakta, jatuhnya bisa fitnah atau hoax. Na’udzu billahi mindzalik.


Ini alasan saya menulis, mana alasanmu?

Niatkan segala sesuatu karena Allah, karena Allahlah yang dapat memberi kita rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga kita bisa menyelesaikan tulisan kita. Saya kutipkan lagi kutipan dari Mbak Asri Supatmiati, 
Menulis adalah seni menyampaikan kebenaran. Kalau orang berilmu tidak menulis, orang bodoh yang akan menyebarkan kesesatan.”



Kalau kita nggak mulai dari sekarang, kapan lagi? Kalau bukan ummat Islam yang menyampaikan kebenaran, siapa lagi?

Keep writing on! Salam terasi. Eh? Literasi maksudnya :D

Salam literasi!

Wallahu a’lam bishowab. [Annavi]



Jakarta, 15 April 2018

Arlin Navigati

Calon Revowriter Army


#revowriter

#revowriter7

#belajarnulis

#Annavi


Aneh

Assalamu'alaikum. 
Apa kabar?
Semoga selalu di dalam lindungan Allah ya semuanya.

Di postingan sebelum ini, saya bingung, kenapa ukuran tulisannya jadi kecil banget, padahal font sizenya udah saya atur ukuran normal. Setelah dipost yang muncul malah kecil banget tulisannya.
Saya udah coba edit, tapi hasilnya masih sama. Mungkin sekitar 5 kali saya ngedit tapi hasilnya masih sama.


Kecil banget kan tulisannya?



Saya cek dari HP, hasilnya pun sama, tulisannya kecil banget. Tapi kalo dari HP bisa dizoom sih.

Semoga di postingan kali ini udah normal lagi.

Aneh ya..

Apa karena saya copy paste dari status facebook saya kali ya?

Tapi kalo tulisannya udah normal lagi, berarti saya berhasil ngeditnya.

Tapi kalo belum, mungkin ada yang bisa bantu saya?

Just give a comment on this posting. Thank you.

Wa salamu'alaikum.

Sabtu, 14 April 2018

Keseruan Belajar di Kelas Revowriter 7

Malam yang saya tunggu2 akhirnya datang juga. Penasaran ya? Simak terus sampai akhir.

Selasa malam jam 19.45 - 21.45 adalah jadwal training menulis online di kelas Revowriter (basic)
Buat temen-temen yang belum tau tentang Revowriter, nih saya kasih tau.


Revowriter adalah komunitas belajar nulis yang digagas oleh Mbak Asri Supatmiati, seorang Ibu Rumah Tangga, Pejuang Dakwah dan Penulis yang telah menulis 10 buku. Maa syaa Allah tabarakallah.


Revowriter diambil dari kata revolution dan writer. Harapannya agar orang-orang yang belajar nulis di komunitas ini bisa menjadi penulis yang membawa perubahan menuju peradaban mulia yang gilang gemilang yaitu peradaban Islam. Allahu Akbar!


Pagi hari sebelum kelas di mulai Mbak Asri udah woro-woro ngingetin jam belajar, nyuruh ngisi quota dan charge handphone. Dari pagi sampai menjelang kelas dimulai antusiasme peserta terus berdatangan memenuhi notifikasi.
Jam 19.53 WIB, Mbak Asri mulai membuka kelas, memberi tahu adab belajar di kelas Revowriter, dan mengingatkan bahwa proses belajar akan berlangsung cepat, interaktif dan berisik, beliau juga mengingatkan utk mematikan notifikasi. Tanpa disuruh pun, notifikasi saya udah mode off atau vibrate mode karena ikut beberapa grup dan khawatir terjadi perang dingin antara grup-grup itu, wkwkw, minta dibaca duluan.
Kelas dimulai dengan beberapa pertanyaan, mulai dari siapa penulis yang kamu kenal, kenapa mereka disebut penulis, dll.


Benar apa kata mbak Asri; kelas akan berlangsung cepat, interaktif dan berisik.


Baru aja mbak Asri ngepost pertanyaan, langsung deh belasan sampe puluhan chat jawaban dari peserta berbaris ke bawah.


Dalam hati, "Ini kapan gue ngejawab pertanyaannya nih kalo ketimpa chat dari peserta lain?"


Langsung saya scroll up pertanyaannya dan ngetik jawaban secepat yang saya bisa
Oh ya saya mau kasih tips, biar kita bisa langsung jawab pertanyaan dan nyimak materi, kita harus stay di depan layar jangan disambi-sambi ya, hehe, kecuali mendesak. Jangan fokus baca-baca jawaban atau komentar peserta lain, itu mah bisa dibaca nanti setelah kelas selesai, kecuali kalo kamu mau jadi silent reader. Pokoknya fokus aja sama materi atau pertanyaan dari trainer.
Di kelas perdana ini, peserta diberi motivasi tentang pentingnya menulis bukan sekadar menjadi penulis.


Kita pun harus mengubah mindset kita bahwa penulis itu bukan hanya seperti Tere Liye, Dee Lestari, atau Andrea Hirata. Orang-orang yang ingin menyampaikan ilmu atau gagasannya, juga bisa disebut penulis. Maka dari itu, siapa pun yang memiliki ilmu, BISA menulis!


Kata mbak Asri, "Menulis adalah seni menyampaikan kebenaran. Kalau orang berilmu tidak menulis, orang bodoh yang akan menyebarkan kesesatan."
Waah maa syaa Allah. Jadi lebih semangat untuk menulis.
Yuk mulai menulis, jangan tunggu sempurna, nanti nggak action-action, menulis dan berproseslah


Pastinya nulis tulisan yang bermanfaat, dan juga benar ya, benar menurut Yang Maha Benar yaitu Allah subhanahu wa ta'ala.


Di akhir kelas, mbak Asri memberi 2 tugas, dan yang saya tulis ini adalah salah satunya. 
Gimana?
Tergambar kan keseruan belajar di kelas Revowriter?


Kamu mau ikut kelas Revowriter juga? (malah promo 😂)


Sabar ya para pembaca yang budiman, in syaa Allah beberapa bulan lagi Revowriter buka kelas baru.
Kelas saya aja baru mulai, hehe 😁

Sekian postingan dari saya, tunggu dan simak postingan selanjutnya. [Annavi]


Jakarta, 11 April 2018

Arlin Navigati

Calon Revowriter Army


#revowriter
#revowriter7
#belajarnulis
#Annavi