Kenapa sih kita harus nulis?
Kalau pertanyaan itu ditanyakan ke saya mungkin saya butuh waktu yang agak lama untuk menjawabnya.
Padahal nulis kan udah jadi bagian hidup kita sehari-hari. Tapi kenapa ketika pertanyaan itu ditanyakan ke kita, malah membuat kita bertanya-tanya ya? Hehe (Nggak usah ketawa :D)
Sebenarnya dari masa SD saya memang sudah suka nulis, biasalah tulisan anak SD, tuker-tukeran biodata, curhat nggak jelas, dan sebagainya. Masa SMP dan SMK juga masih suka nulis, nulis diary daily activity gitu. Yang paling sering itu pas masa SMK, sempet ngeblog juga meskipun setelah saya baca ulang lebih banyak tulisan alay dibanding tulisan berfaedah :D
Dulu hampir selalu nyediain waktu buat nulis meskipun nulis tulisan yang kurang penting sekali pun, meskipun belum selesai tapi harus dilanjutin. Sampai pada suatu saat saya nggak nulis diary lagi selama bertahun-tahun hingga sulit rasanya untuk mulai nulis lagi meskipun hanya nulis diary.
Saya sendiri sadar pentingnya menulis. Salah duanya untuk menebar manfaat dan pengalaman. Pernah suatu hari saya tulis beberapa alasan kenapa saya harus menulis, tapi lagi-lagi saya mangkir untuk produktif nulis :D
That’s why I joined Revowriter. Saya butuh berkumpul dengan orang-orang yang sepemikiran untuk menulis, butuh orang-orang yang saling mendukung dalam hal menulis. Terlebih lagi ketika saya mempelajari Islam secara rutin. Dari hasil belajar itu saya tahu bahwa dulu Islam mengalami kemunduran bahkan hingga keruntuhan institusi negaranya hanya karena opini umum yang dibuat oleh para penjajah. Mereka menyebarkan opini sesat tentang Islam di majalah-majalah, dan di koran-koran. Mereka tidak lagi menjajah ummat Islam melalui fisik, melainkan menjajah melalui pemikiran dan hal tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Bukankah sudah menjadi tugas kita yang terlebih dahulu tahu tentang ajaran Islam untuk memberi tahu kepada orang-orang yang belum tahu?
Berdakwah adalah cara untuk menyampaikan ajaran Islam, baik melalui lisan atau tulisan. Di era yang serba modern ini hampir semua orang mudah untuk mengakses informasi melalui berbagai media, termasuk melalui sosial media dan portal berita online. Di situlah kesempatan kita untuk menulis tentang ajaran Islam. Jangan biarkan musuh-musuh Islam menyerang pemikiran ummat Islam dengan paham-paham yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Menulislah untuk menolong agama Allah. Bayangkan jika dulu Zaid bin Tsabit tidak menulis ayat-ayat Al Quran, Syaikh Taqiyuddin dan Imam Malik tidak menulis kitab atas ilmu yang telah mereka pelajari, akankah sampai ajaran Islam kepada kita saat ini? Menulis adalah untuk menyampaikan ilmu yang kita miliki. Siapa pun yang memiliki ilmu bisa menulis bahkan wajib menulis, begitu kata Mbak Asri Supatmiati.
Menulislah untuk mengenalkan Allah. Meminjam istilah Ust. Felix Siauw; kenalkan Allah bukan kenalkan kita. Dari sini memang niat awal menulis harus karena Allah, jangan sampai ada niat lain misalnya ingin terkenal, ingin cari banyak followers atau likers. Ketika tulisan kita dibaca, dilike, dan dishare banyak orang, kita pasti senang, itu manusiawi, tapi jangan sampai kalau tulisan kita nggak ada yang baca, like dan share kita jadi nggak mau nulis. Teruslah menulis dan berharaplah hanya pada Allah. Mbak Asri bilang bahwa setiap jenis tulisan pasti ada pembacanya, jadi jangan putus asa untuk terus menulis.
Dari semua keterampilan berbahasa, menulis adalah yang paling berat karena membutuhkan ketajaman berpikir dan daya analisa yang tinggi. Selain itu, menulis juga berat karena tanggung jawabnya dunia akhirat, jadi yang kita sampaikan melalui tulisan haruslah sebuah kebenaran. Standar kebenaran itu ada pada Yang Maha Benar yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, pada syari’at Islam. Jangan sampe nih kita menuliskan sesuatu yang nggak benar dan nggak sesuai fakta, jatuhnya bisa fitnah atau hoax. Na’udzu billahi mindzalik.
Ini alasan saya menulis, mana alasanmu?
Niatkan segala sesuatu karena Allah, karena Allahlah yang dapat memberi kita rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga kita bisa menyelesaikan tulisan kita. Saya kutipkan lagi kutipan dari Mbak Asri Supatmiati,
“Menulis adalah seni menyampaikan kebenaran. Kalau orang berilmu tidak menulis, orang bodoh yang akan menyebarkan kesesatan.”
Kalau kita nggak mulai dari sekarang, kapan lagi? Kalau bukan ummat Islam yang menyampaikan kebenaran, siapa lagi?
Keep writing on! Salam terasi. Eh? Literasi maksudnya :D
Salam literasi!
Wallahu a’lam bishowab. [Annavi]
Jakarta, 15 April 2018
Arlin Navigati
Calon Revowriter Army
#revowriter
#revowriter7
#belajarnulis
#Annavi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar