Minggu, 01 April 2018
Pelangi Kala Senja
Senja hari selepas halaqoh, saya dan 2 orang teman saya segera pamit pulang kepada tuan rumah.
Salah satu teman saya ada yang melihat ke langit dan berkata, "Ih ada pelangi, foto ah." dengan segera teman saya langsung mengambil smartphonenya sementara teman saya yang satu lagi sudah pulang.
"Ih, iya. Momen langka nih harus diabadikan." Nggak mau kalah dgn teman saya, saya segera mengambil smartphone di tas dan mengaktifkannya. Setelah hand phone saya aktif lagi, saya mengamati langit sebentar tapi kok ada yang beda ya dibanding yang tadi. Setelah saya abadikan, yaa seperti yang temen-temen bisa lihat di hasil foto 😂. Pelanginya sudah pudar. Padahal mengaktifkan hand phone cuma sebentar, mungkin 2-3 menit tapi Allah sudah menyuruhnya pulang.
Ia hanya diperbolehkan bermain sebentar saja menghias langit sore untuk memanjakan sepasang mata insan yang dikehendaki Allah. Maa syaa Allah.
Jika kita adalah pelangi itu, apakah kita siap untuk "pulang"?
Siapkah kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan di dunia ini?
Dan tahukah temen-temen, bicara soal pelangi, ada beberapa kelompok yang kini menyalahartikan makna pelangi.
Mereka adalah kelompok-kelompok pemuja kebebasan, terutama yang orientasi seksualnya menyimpang. Sebut saja Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau Transeksual.
Mereka bersatu padu saling mendukung satu dengan yang lain, membentuk kekuatan politik global yang mendunia, melakukan kampanye-kampanye sesat atas nama hak asasi manusia, atas nama kebebasan agar eksistensi mereka diterima dan dihargai masyrakat luas.
Sungguh perilaku mereka adalah perilaku yang dilaknat Allah. Allah sangat melaknat perbuatan kaum sodom hingga Allah menjungkirbalikkan dunia beserta isinya. Subhanallah, na'udzu billah.
Mungkin para aktivis LGBT dan pendukungnya berpendapat bahwa aktivitas yang mereka lakukan adalah aktivitas yang wajar, indah, dan nikmat bagaikan surga dunia. Mereka lupa bahwa indahnya "pelangi" hanya sebentar dan akan "pulang" ke tempat asalnya.
Kembalillah pada Allah selagi masih ada waktu.
Wallahu a'lam bishowab.
(annavi)
Kamis, 08 Februari 2018
Lebih Baik dipaksa Masuk Surga daripada Suka Rela Masuk Neraka
Judul di atas pernah saya baca di komentar sebuah fanpage Islam.
Dan memang benar masuk surga itu penuh perjuangan, sedangkan masuk neraka itu gampang. Meskipun saya belum pernah berkunjung ke kedua tempat tersebut. Kan ada Al-Qur'an dan Al-Hadist yang menjelaskannya.
Saya juga pernah baca, "Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak kita sukai, sedangkan neraka itu dikelilingi oleh hal-hal yang kita sukai."
Untuk masuk surga kita harus sholat 5 waktu, dan melaksanakan kewajiban lainnya. Kalau orang yang tidak beriman pasti akan berpikir bahwa sholat 5 waktu itu melelahkan, untuk apa sholat, sholat gak ada untungnya buat saya. Tapi bagi kita yang beriman, atas dasar keimanan kita mau melaksanakannya. Mungkin awalnya sulit untuk membiasakan, harus ada paksaan dari orang lain, maupun diri sendiri. Tapi jika sudah berlangsung secara rutin, tentu kita akan terbiasa. Kalau kata Dzawin Nur Ikram: "Dipaksa, terpaksa, terbiasa." (comic SUCI 2014).
Kalau Neraka itu dipenuhi hal-hal yang manusia sukai. Contoh riba', siapa coba yang gak mau dapet untung besar? Contoh lagi buka aurat. Untuk apa tutup aurat mendingan buka aurat, untuk apa pakai kerudung dan jilbab, kan gerah. Nah secara gak sadar dan sukarela, dengan sendirinya akan masuk neraka.
Intinya untuk mendapatkan hal yang istimewa (surga: pada konteks ini) kita harus berjuang. Dan berjuang butuh pengorbanan. Dan harus diniatkan karena Allah. Wallahu a'lam bishowab.
#NulisRandom2015
#01_06_2015
Dan memang benar masuk surga itu penuh perjuangan, sedangkan masuk neraka itu gampang. Meskipun saya belum pernah berkunjung ke kedua tempat tersebut. Kan ada Al-Qur'an dan Al-Hadist yang menjelaskannya.
Saya juga pernah baca, "Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak kita sukai, sedangkan neraka itu dikelilingi oleh hal-hal yang kita sukai."
Untuk masuk surga kita harus sholat 5 waktu, dan melaksanakan kewajiban lainnya. Kalau orang yang tidak beriman pasti akan berpikir bahwa sholat 5 waktu itu melelahkan, untuk apa sholat, sholat gak ada untungnya buat saya. Tapi bagi kita yang beriman, atas dasar keimanan kita mau melaksanakannya. Mungkin awalnya sulit untuk membiasakan, harus ada paksaan dari orang lain, maupun diri sendiri. Tapi jika sudah berlangsung secara rutin, tentu kita akan terbiasa. Kalau kata Dzawin Nur Ikram: "Dipaksa, terpaksa, terbiasa." (comic SUCI 2014).
Kalau Neraka itu dipenuhi hal-hal yang manusia sukai. Contoh riba', siapa coba yang gak mau dapet untung besar? Contoh lagi buka aurat. Untuk apa tutup aurat mendingan buka aurat, untuk apa pakai kerudung dan jilbab, kan gerah. Nah secara gak sadar dan sukarela, dengan sendirinya akan masuk neraka.
Intinya untuk mendapatkan hal yang istimewa (surga: pada konteks ini) kita harus berjuang. Dan berjuang butuh pengorbanan. Dan harus diniatkan karena Allah. Wallahu a'lam bishowab.
#NulisRandom2015
#01_06_2015
Selasa, 29 November 2016
Tangan di atas
TANGAN DI ATAS
Pagi ini
ketika aku dalam perjalanan menuju kampus, aku melihat seorang wanita berjilbab
dan berkerudung hitam yang memberikan sebungkus nasi kepada seorang laki-laki
pengumpul barang bekas. Laki-laki itu menerimanya dengan penuh rasa terima
kasih. Di wajah perempuan itu terlukis senyum yang sangat tulus ketika
memberikan nasi bungkus itu. Lalu ia menghampiri suaminya –entahlah itu suami
atau kakak laki-lakinya, aku tidak begitu tahu-- yang menunggunya di motor
beberapa langkah di depannya. Aku memperhatikannya dari dalam angkot,
sepertinya mereka akan segera bergegas dari tempat itu. Baru sebentar aku
mengedarkan pandangan mataku ke sekeliling tempat itu, mereka sudah pergi entah
ke mana.
Pemandangan
pagi ini membuat hatiku terenyuh, sungguh sangat menyentuh perasaan. Hal yang
kecil memang, tapi apakah setiap orang bisa melakukannya? Dalam hati aku
bertanya-tanya, “Ya Allah, kapan aku bisa seperti itu? Kapan aku bisa menolong
salah satu atau beberapa orang yang tinggal di jalanan melalui tanganku?”.
Tiba-tiba aku tersadar bahwa mengurus orang-orang yang tidak mampu adalah salah
satu tugas negara, bukan individu, bukan juga kelompok. Tapi negaralah yang
bisa melakukan itu semua. Saat ini orang-orang yang kelihatannya tidak mampu,
sesungguhnya mereka miskin tersistem. Sistem kesejahteraan sosial hanya
dinikmati oleh orang-orang tertentu sementara mereka yang hidup di jalanan
tidak mendapatkan haknya.
Ya Allah,
aku hanya bisa memberikan sedikit kontribusi dan berdoa saat ini.. Semoga kelak
akan ada sistem yang adil bagi orang kaya dan orang miskin, sistem yang akan
membuat semua manusia sadar akan hak dan kewajibannya. Aku percaya Ya Allah,
bahwa sistem itu adalah sistem Islam, sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah
Rosyidah Islamiyyah seperti yang Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam
contohkan. Ya Allah semoga sistem tersebut segera hadir di tengah-tengah umat
Islam agar kesejahteraan dapat dirasakan semua kalangan, aamiin.
29 November 2016, ditulis di
beranda masjid P.B. Jenderal Soedirman, Cijantung, Jak-Tim
Note: Meskipun mengurusi
orang-orang yang tidak mampu adalah salah satu tugas negara, bukan berarti kita
tidak boleh menolong orang tersebut, boleh saja. Tapi akan lebih efektif jika
negara yang melakukannya.
Selasa, 08 Maret 2016
Semester Empat Itu . . . .
Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh..
Apa kabar? Hehe. Setelah 1 tahun blog ini gak di up date, akhirnya saya up date juga hari ini.
Terakhir kali saya up date itu pas semester 1, dan sekarang udah semester 4. Wiiih lama juga ya.. Ya alhamdulillah bisa kuliah sampe semester 4 tanpa ada halangan harus ngulang. IPK juga lumayan lah.
'Semester 4 itu kayak gimana, Lin?'
Waduh kalo ditanya kayak gitu..gimana ya jawabnya..
Pokoknya semester 4 itu... er.. gak enak sih bilangnya, tapi ya udah deh. Semester 4 itu... BANYAK TUGAS.
:D hehe
English for Tourism, Ilmu Alamiah Dasar, Writing, English for Specific Purposes, Vocabulary, daaan mata kuliah lainnya.
Kata kakak senior, semester 4, 5, 6 itu lagi jenuh-jenuhnya. Semoga aja saya gak jenuh. Aaamiin.
Iyak betul semuanya pasti bisa selesai kok. Harus diselesaiin dengan penuh tanggung jawab. Yaa namanya juga mahasiswi.
Semuanya pasti bisa selesai karena ada Allah. Karena Allah gak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambanya. Itu!
Ya udah, segini aja curhat singkat dari saya disela-sela ngerjain tugas. Semangat buat temen-temen yang lain, yang juga semester 4, atau yang masih kuliah. Pasti bisa kok, pasti selesai kok. Pasti!
See you on the nekst post..
Wassalamu'alaikum
*huruf 'eks'-nya gak bisa, entah apa yang terjadi pada keyboard ini.
Apa kabar? Hehe. Setelah 1 tahun blog ini gak di up date, akhirnya saya up date juga hari ini.
Terakhir kali saya up date itu pas semester 1, dan sekarang udah semester 4. Wiiih lama juga ya.. Ya alhamdulillah bisa kuliah sampe semester 4 tanpa ada halangan harus ngulang. IPK juga lumayan lah.
'Semester 4 itu kayak gimana, Lin?'
Waduh kalo ditanya kayak gitu..gimana ya jawabnya..
Pokoknya semester 4 itu... er.. gak enak sih bilangnya, tapi ya udah deh. Semester 4 itu... BANYAK TUGAS.
:D hehe
English for Tourism, Ilmu Alamiah Dasar, Writing, English for Specific Purposes, Vocabulary, daaan mata kuliah lainnya.
Kata kakak senior, semester 4, 5, 6 itu lagi jenuh-jenuhnya. Semoga aja saya gak jenuh. Aaamiin.
Iyak betul semuanya pasti bisa selesai kok. Harus diselesaiin dengan penuh tanggung jawab. Yaa namanya juga mahasiswi.
Semuanya pasti bisa selesai karena ada Allah. Karena Allah gak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambanya. Itu!
Ya udah, segini aja curhat singkat dari saya disela-sela ngerjain tugas. Semangat buat temen-temen yang lain, yang juga semester 4, atau yang masih kuliah. Pasti bisa kok, pasti selesai kok. Pasti!
See you on the nekst post..
Wassalamu'alaikum
*huruf 'eks'-nya gak bisa, entah apa yang terjadi pada keyboard ini.
Selasa, 16 September 2014
Kabar Terbaru
Kabar terbaru untuk kita semuaa~
Jyeh malah nyanyi, haha
Jadi gini, gue sekedar mau ngasih kabar terbaru gue aja gitu, kali aja ada yang penasaran hehe.
Alhamdulillah sekarang gue udah kerja sebagai guru freelance di salah satu tempat les Bahasa Inggris dan komputer. Kira-kira udah ada sebulan.
Gue dapet info lowongan kerja ini dari Miss. Umi, dia bilang di sana ada muridnya yang jadi staff, namanya Dira. Karena tempatnya cukup deket dari rumah, gue berniat untuk menaruh lamaran kerja di sana. Setelah mempersiapkan lamaran, gue pun berangkat ke tempat les itu. Di sana, gue ditanya-tanya dulu sebentar, abis itu gue langsung disuruh ngerjain test TOEFL! Bayangin, tanpa persiapan, tanpa kamus. You pasti know lah ya, kalo soal TOEFL itu banyak banget, sampe ratusan. Abis itu gue diantar ke sebuah ruangan utuk ngerjain soalnya, di ruang itu gue cuma sendiri, dan ruangan itu berAC. Untungnya gue gak beku di ruang itu. Setelah selesai ngerjain test itu, gue pulang. Beberapa hari setelah test itu, gue sering dapet telpon mendadak untuk proses selanjutnya.
Gue dapet info lowongan kerja ini dari Miss. Umi, dia bilang di sana ada muridnya yang jadi staff, namanya Dira. Karena tempatnya cukup deket dari rumah, gue berniat untuk menaruh lamaran kerja di sana. Setelah mempersiapkan lamaran, gue pun berangkat ke tempat les itu. Di sana, gue ditanya-tanya dulu sebentar, abis itu gue langsung disuruh ngerjain test TOEFL! Bayangin, tanpa persiapan, tanpa kamus. You pasti know lah ya, kalo soal TOEFL itu banyak banget, sampe ratusan. Abis itu gue diantar ke sebuah ruangan utuk ngerjain soalnya, di ruang itu gue cuma sendiri, dan ruangan itu berAC. Untungnya gue gak beku di ruang itu. Setelah selesai ngerjain test itu, gue pulang. Beberapa hari setelah test itu, gue sering dapet telpon mendadak untuk proses selanjutnya.
Nah sekarang gue pengen cerita pas pertama kali gue ngajar..
Lo tau gak, sebelum jadi guru tuh ada tes yang namanya micro teaching, ini semacam tes tentang bagaimana kita mengajar murid. Jadi tuh kita praktik mengajar di depan murid, dan nanti ada orang lain yang menilai cara kita mengajar, gitu. Pas pertama kali ngajar, gue grogi banget, bayangin, lo ditelpon 30 menit sebelum mengajar! It means that you don't have more preparation to teach. Ya udah, gue mengajarkan materi yang pernah gue dapet aja waktu zaman gue sekolah. Dan untungnya, murid-murid gue masih kelas 2-6 SD. Jadi materi yang gue ajarkan belum terlalu sulit dan gue pun cukup menguasai materi-materi yang akan gue ajarkan.
Waktu itu ada guru laki-laki yang menilai cara gue mengajar, dia juga yang menginterview gue. Pas di kelas, sebelum ngajar, gue memperkenalkan diri gue ke murid-murid, dia juga. Dia biasa dipanggil Mr. Sonang. When I first saw him, gue kira umur dia 25 tahun..ternyata pas selesai interview, dia bilang: I'm one year older than you. Kalo gue gak salah denger sih, dia bilang begitu. Well, umur gue sekarang 19 tahun, berarti umur dia 20 tahun, berarti perkiran gue meleset, gue syok, shock. Abis gimana ya dia tinggi, terus pembawaannya dewasa, ya gue gak nyangka aja gitu. Kayaknya perkiraan gue kalo nebak umur temen laki-laki yang baru ketemu tuh salah mulu dah, haha. Waktu itu juga pernah salah nebak umur temen gue yang laki-laki, prediksi gue umurnya 20 tahun, gak taunya dia seumuran sama gue.
Ya wajar lah ya kalo laki-laki itu terlihat dewasa, meskipun ada juga perempuan yang terlihat dewasa. Soalnya kan nanti laki-laki jadi pemimpin di mana-mana, jadi memang harus bisa bersikap dewasa. Beda banget sama gue yang ke mana-mana dikira anak sekolahan, hahaha.
Sering ditanya orang ditempat umum kayak gini:
"Dek, sekolah di mana?"
"Dek, umurnya berapa?"
"Dek, uang jajan kamu berapa?"
Begitulah~
Oh ya, Alhamdulillah gue diberikan kesempatan oleh Allah untuk melanjutkan pendidikan. Sekarang gue kuliah di salah satu kampus swasta di Jakarta Timur. Gue ngambil jurusan pendidikan bahasa Inggris. Namanya juga baru pertama kali kuliah, jadi gue masih bingung. Gue ngelihat seorang kakak yang satu kelas sama gue waktu ikut pelatihan akun Google, namanya Kak Delis. Gue samperin dia, dan gue tanya ke dia. Dia bilang gue harus ngisi KRS dulu. Karena gue belum tau tempatnya, akhirnya gue diantar Kak Delis untuk ngisi KRS. Kak Delis juga meminjamkan kertas jadwalnya untuk gue salin. Kak Delis bilang kalau dia mahasiswa konversi, dia udah lulus D3 dan ngelanjutin ke S1 sekarang. Kita berdua balik lagi ke kelas yang tadi. Gue ngisi KRS di kelas. Kak Delis bilang, "Ini jadwalnya kamu pegang dulu ya, sekarang aku mau ke semester 3 dulu, nanti aku balik lagi ke sini kok.". Karena bingung, gue cuma jawab, "Oh, iya Kak.".
Sepertinya udah mau masuk jam pelajaran pertama, dan anak-anak yang lain juga udah banyak yang dateng. Setelah kita nungguin dosennya, ternyata dosennya gak hadir. Akhirnya kita yang ada di kelas saling kenalan. Baru pertama kenal aja kita udah cerita banyak hal, dan juga selfie-selfie, selfie rame-rame tentunya. Ada yang namanya Shara, dia tuh orangnya rame banget. Kalo dia berhenti cerita, suasana kelas jadi hening kayak di kamar jenazah haha. Karena udah masuk waktu Ashar, kita yang muslim pergi ke masjid. Di deket kampus ada masjid, namanya masjid Soedirman. Pas mau jalan ke masjid, gue ketemu Kak Delis, "Hai Arlin, kamu bawa jadwal aku gak?", tadi pas nganterin gue ngisi KRS, Kak Delis nanya nama gue. "Bawa Kak.", kata gue. Lalu gue duduk di kursi dan ngubek-ngubek tas gue. Akhirnya jadwal yang nyelip itu ketemu, "Ini Kak jadwalnya, makasih yaa.". "Iya sama-sama. Kamu mau ke mana Lin?". "Ke masjid Kak.", kata gue. "Oh ya udah, sholat dulu gih sana. Aku juga abis sholat kok.", kata Kak Delis. "Ya udah Kak, aku duluan yaa.", kata gue. Lalu gue menyusul temen-temen yang udah duluan. Setelah sholat Ashar, kita duduk-duduk di teras masjid, dan selfie lagi -_- bener-bener narsis ini kelas. Setelah itu kita balik ke kelas karena waktu istirahatnya cuma sebentar. Ternyata pelajaran ke 2 juga gak hadir dosennya. Waktu yang ada kita gunakan untuk perkenalan lagi, dan saling tukar cerita. Satu jam berlalu, waktu Maghrib pun tiba. Kita pergi ke masjid, setelah itu makan di warung tenda di seberang kampus. Di depan kampus gue tuh banyak banget warung tenda, pedagang kaki lima. Mulai buka dari pagi sampe malem. Jadi lo bisa sekalian wisata kuliner kalo lagi mampir ke kampus gue. Kok gue jadi promosi gini yak, hehe. Kayak Mbak-Mbak SPG di mall, bedanya ini di kaki 5, mungkin pedagangnya akan teriak-teriak untuk menarik perhatian calon pembeli, "Boleh kakak, nasi gorengnya kakak, silahkan mampir kakak.". Oke abaikan saja imajinasi gue. Gue nemenin Tia makan, tapi gue gak makan karena masih kenyang. Kita ngobrol-ngobrol juga, ternyata Tia itu lulusan pondok pesantren. Tia cerita tentang peraturan-peraturan pondok yang ketat banget, dia juga cerita banyak hal, mungkin kalo gue ceritain di sini, postingan ini bisa jadi novel kali ya, hehe. Setelah Tia selesai makan, kita langsung ke kelas. Pelajaran ke tiga, dosennya hadir dan kita belajar structure 1. Kita selesai belajar jam setengah 9 malem, abis itu gue langsung pulang ke rumah.
Karena masuk sore, pulang malem, gue harus cepet pulang supaya bisa dapet kendaraan umum.
Alhamdulillah temen barunya seru-seru, semoga ke depannya gue bisa menjalin pertemanan yang baik. Sampe sini dulu cerita gue, next time gue sambung lagi.
Wassalamu'alaikum.
Sering ditanya orang ditempat umum kayak gini:
"Dek, sekolah di mana?"
"Dek, umurnya berapa?"
"Dek, uang jajan kamu berapa?"
Begitulah~
Oh ya, Alhamdulillah gue diberikan kesempatan oleh Allah untuk melanjutkan pendidikan. Sekarang gue kuliah di salah satu kampus swasta di Jakarta Timur. Gue ngambil jurusan pendidikan bahasa Inggris. Namanya juga baru pertama kali kuliah, jadi gue masih bingung. Gue ngelihat seorang kakak yang satu kelas sama gue waktu ikut pelatihan akun Google, namanya Kak Delis. Gue samperin dia, dan gue tanya ke dia. Dia bilang gue harus ngisi KRS dulu. Karena gue belum tau tempatnya, akhirnya gue diantar Kak Delis untuk ngisi KRS. Kak Delis juga meminjamkan kertas jadwalnya untuk gue salin. Kak Delis bilang kalau dia mahasiswa konversi, dia udah lulus D3 dan ngelanjutin ke S1 sekarang. Kita berdua balik lagi ke kelas yang tadi. Gue ngisi KRS di kelas. Kak Delis bilang, "Ini jadwalnya kamu pegang dulu ya, sekarang aku mau ke semester 3 dulu, nanti aku balik lagi ke sini kok.". Karena bingung, gue cuma jawab, "Oh, iya Kak.".
Sepertinya udah mau masuk jam pelajaran pertama, dan anak-anak yang lain juga udah banyak yang dateng. Setelah kita nungguin dosennya, ternyata dosennya gak hadir. Akhirnya kita yang ada di kelas saling kenalan. Baru pertama kenal aja kita udah cerita banyak hal, dan juga selfie-selfie, selfie rame-rame tentunya. Ada yang namanya Shara, dia tuh orangnya rame banget. Kalo dia berhenti cerita, suasana kelas jadi hening kayak di kamar jenazah haha. Karena udah masuk waktu Ashar, kita yang muslim pergi ke masjid. Di deket kampus ada masjid, namanya masjid Soedirman. Pas mau jalan ke masjid, gue ketemu Kak Delis, "Hai Arlin, kamu bawa jadwal aku gak?", tadi pas nganterin gue ngisi KRS, Kak Delis nanya nama gue. "Bawa Kak.", kata gue. Lalu gue duduk di kursi dan ngubek-ngubek tas gue. Akhirnya jadwal yang nyelip itu ketemu, "Ini Kak jadwalnya, makasih yaa.". "Iya sama-sama. Kamu mau ke mana Lin?". "Ke masjid Kak.", kata gue. "Oh ya udah, sholat dulu gih sana. Aku juga abis sholat kok.", kata Kak Delis. "Ya udah Kak, aku duluan yaa.", kata gue. Lalu gue menyusul temen-temen yang udah duluan. Setelah sholat Ashar, kita duduk-duduk di teras masjid, dan selfie lagi -_- bener-bener narsis ini kelas. Setelah itu kita balik ke kelas karena waktu istirahatnya cuma sebentar. Ternyata pelajaran ke 2 juga gak hadir dosennya. Waktu yang ada kita gunakan untuk perkenalan lagi, dan saling tukar cerita. Satu jam berlalu, waktu Maghrib pun tiba. Kita pergi ke masjid, setelah itu makan di warung tenda di seberang kampus. Di depan kampus gue tuh banyak banget warung tenda, pedagang kaki lima. Mulai buka dari pagi sampe malem. Jadi lo bisa sekalian wisata kuliner kalo lagi mampir ke kampus gue. Kok gue jadi promosi gini yak, hehe. Kayak Mbak-Mbak SPG di mall, bedanya ini di kaki 5, mungkin pedagangnya akan teriak-teriak untuk menarik perhatian calon pembeli, "Boleh kakak, nasi gorengnya kakak, silahkan mampir kakak.". Oke abaikan saja imajinasi gue. Gue nemenin Tia makan, tapi gue gak makan karena masih kenyang. Kita ngobrol-ngobrol juga, ternyata Tia itu lulusan pondok pesantren. Tia cerita tentang peraturan-peraturan pondok yang ketat banget, dia juga cerita banyak hal, mungkin kalo gue ceritain di sini, postingan ini bisa jadi novel kali ya, hehe. Setelah Tia selesai makan, kita langsung ke kelas. Pelajaran ke tiga, dosennya hadir dan kita belajar structure 1. Kita selesai belajar jam setengah 9 malem, abis itu gue langsung pulang ke rumah.
Karena masuk sore, pulang malem, gue harus cepet pulang supaya bisa dapet kendaraan umum.
Alhamdulillah temen barunya seru-seru, semoga ke depannya gue bisa menjalin pertemanan yang baik. Sampe sini dulu cerita gue, next time gue sambung lagi.
Wassalamu'alaikum.
Selasa, 15 April 2014
POSTINGAN DI SAAT YANG NULIS LAGI BINGUNG MAU NULIS APA. ANEH MEMANG.
Assalamu’alaikum para pembaca rahimakumullah :D (emangnya ada yang
baca?) meet me again :)
Iya nih, gue lagi bingung mau nulis
apa. Jadi sekarang gue mau nulis apa aja yang ada di kepala gue. Di kepala gue
ada mata, hidung, alis.. oh oke stop. Baru mulai aja, gue udah ngaco.
Sebenernya di kepala gue ada banyak, banyak yang dipikirin, banyak yang mau
ditulis. Ada beberapa judul entri yang udah gue siapin, tapi baru judulnya
doang, isinya belum gue tulis, masih ada di kepala gue -_- payah nih.
Ada sebagian entri yang udah
setengah ditulis, ada yang belom, ada yang pending.
Sebenernya gue pengen banget pada saat
gue nulis entri (postingan), pada
saat itu juga gue publish postingan itu!! Tapi sayangnya gue
belum punya modem huhu. Jadi selama
ini, gue ketik dulu apa yang mau gue post,
gue ketik di MS. Word, gue save di laptop. Gue copy ke flashdisk. Pergi ke Warnet. Gue copy lagi di entri blog, then publish it! Ngeblog udah dapet dua
tahun, tapi dari dulu gini-gini aja. Kalo baru pertama ngeblog rasanya emang
pengen banget sering-sering posting. Kalo
udah agak lama, mulai deh kena syndrome
hiatus. Yaitu masa-masa di mana
seorang blogger emang lagi gak pengen ngeblog, blognya di diemin selama
berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, atau bertahun-tahun
lamanya. Pfftt, biasanya kalo udah kena syndrome
hiatus, pasti bakal jadi procrastinator
juga. Yaitu orang yang suka menunda-nunda untuk mengerjakan sesuatu. Mau
ngerjain ini ditunda, mau ngerjain itu ditunda, mau ngirim sms ditunda (lho?),
pas mau nulis cerita, eh yang terjadi malah begini: entar aja ah abis makan,
entar aja ah abis tidur -_- dan akhirnya
lupa, atau udah gak semangat lagi ngerjainnya.
Ada beberapa postingan di blog gue
yang belum selesai sepenuhnya, tapi udah gue publish aje! Gue gak mau jadi procrastinator,
tapi itu terjadi hiks, tapi banyak juga ya orang-orang yang suka menunda, bukan
berarti gue mau nyari temen nih, tapi beberapa penulis dan orang pada umumnya
pasti pernah mengalami hal ini. Hng, gue juga janji bakal melengkapi,
memperbaiki postingan itu, mau bikin postingan tentang ini itu, tapi belum juga
gue kerjakan. Kadang pas lagi males, gak ada mood, atau faktor-faktor lain.
Mungkin karena update di facebook atau twitter lebih instant
kali ya, jadi gue lebih sering update
di facebook. Atau ketika lagi nulis
tentang ini, eh tiba-tiba pengen nulis tentang itu. Dan untungnya gue cuma
janji sama diri gue sendiri, ternyata menepati janji pada diri sendiri itu
susah juga yaa.. Dan untungnya lagi, yang baca blog gue belum terlalu banyak.
Seandainya gue dan blog gue udah terkenal (aamin, doakan saya ya^^) pasti kan
lumayan banyak yang baca, jadi banyak juga yang bakal nagih tulisan gue. Mungkin akan ada pertanyaan seperti ini:
“Lin postingan yang kemaren belom
selesai, kapan dilanjutin? Gue nungguin nih!”
“Lin, kok blognya gak di apdet,
apdet?”
“Lin, kapan mau apdet blog?”
“Lin, kok elo cakep banget sih?”
Iya kayaknya pertanyaan terakhir,
itu gue lagi ngigo, abaikan saja!
Mudah-mudahan gue bisa nulis lebih spesifik
lagi.
Segitu dulu dari gue. Wassalamu’alaikum.
Kamis, 27 Maret 2014
Dhini And The Cupang Fish
Postingan kali ini bakal nyeritain Dhini, salah satu ponakan gue.
Ngebaca judul postingan ini, mungkin kalian mengira ini adalah nama sebuah grup band baru. Seperti; Andra And The Backbone, Tika And The Dissidents, atau Maliq And The Essentials, ternyata bukan, sodara-sodara.
Tapi lucu juga ngebayangin Dhini, ponakan gue yang masih kelas 1 SD ngebentuk grup band. Di mana Dhini mengenakan kostum Putri Dugong, eh maap, Putri Duyung, maksudnya, memposisikan diri menjadi seekor vokalis, diiringi ikan-ikan Cupang yang memainkan instrumen lainnya. Dan di konser itu ada Spongebib dan Petruc, penghuni Laut Kidul, dua bocah malang tapi bukan asli Malang yang bela-belain bolos sekolah demi menonton konser itu. Sungguh menakjubkan, prokprokprokprok *suara tepuk kaki
In the real life, gini ceritanya. Suatu hari, di saat gue lagi istirahat, Dhini nyamperin gue.
Dhini: “Lek Lin, aku naroh ikan Cupang ya di kamar mandi Mbah uti (Mbah putri).”
Gue: “. . . . “
Dhini: “Lek Lin?!”
Gue: “Ha? Apaan si?”, gue yang masih setengah sadar, gak bisa mencerna apa yang dikatakan Dhini.
Dhini: “Aku naroh ikan Cupang di bak kamar mandi Mbah uti. Nanti bilangin ya sama Mbah Mi, kalo nguras bak hati-hati ya, soalnya ada ikan Cupang punya aku.”.
Gue: “Ha? Iya iya. Kamu gak sekolah?”, Dhini pergi meninggalkan gue tanpa menjawab pertanyaan gue. Lalu gue melanjutkan tidur gue yang terganggu itu.
Mungkin gue akan langsung bangun kalau kejadiannya seperti ini.
Dhini: “Lek Lin, bangun!”
Gue: “Apaan?”
Dhini: “AKU NAROH IKAN ASSIN YANG UDAH DIGORENG, DI DALEM BAK KAMAR MANDI!!”
Gue akan buru-buru bangun dan berkata: “HAH?! DEMI APA?”
Dhini yang udah keracunan infotaintment sesat, bakal ngerespon: “DEMI TUHAAAAN!!!”.
Gila aja kalo naro ikan asin di bak mandi, idup juga kagak tuh ikan, bisa-bisa semua penghuni rumah yang mandi di kamar mandi itu badannya bau amis, hehe.
Dan ketika gue masuk ke dalam kamar mandi, bener aja, ada seekor ikan Cupang sedang berenang di bak mandi.
Akulah ikan Cupang fangki
Tapi itu bukan foto aslinya sih, kira-kira begitulah wujud si ikan Cupang fangki milik Dhini, kayaknya lebih kecil lagi deh.
Di rumahnya Dhini sendiri, di dalam bak mandinya, juga ada ikan Cupang lainnya. Bener-bener, Dhini sang peternak ikan Cupang yang handal, salut gue. Ada juga ikan Cupang yang di taro di toples kaca, yang biasa di obok-obok Fathir, adeknya Dhini.
Suatu sore, Dhini mandi di kamar mandi di rumah Mbahnya. Setelah mandi dia keluar dengan handuk yang dipake gak beraturan. Kadang dilepas-lepas. Maklumlah, anak kecil. Tiba-tiba Mbah Utinya lewat. Mbah Utinya mau mandiin Said, adek sepupunya Dhini. Dhini tiba-tiba teriak-teriak histeris sambil hentak-hentak kaki kayak kuda lumping-makan beling-kesurupan-yang-ditonton-warga-satu-dusun.
Dhini: “Mbah! Mbah mau ke mana? Mbah jangan pergi! Ih Embah! Bagi uang dulu DUA JUTA!!”
Mbah: “Kamu tuh apa-apan sih. Pake baju sana!”
Nggak deng, Dhini minta uangnya cuma dua ribu rupiah, hehe. Sementara gue yang ngeliat kejadian itu cuma bisa ketawa-tawa gara-gara tingkahnya Dhini yang kayak anak kecil (emang anak kecil, sih).
Waktu emak gue lagi masak, Dhini juga bilang ke emak gue.
Dhini: “Mbah Mi, nanti kalo nguras bak kamar mandi hati-hati ya, soalnya ada ikan Cupang punya aku. Nanti ikannya diselametin dulu ya Mbah, dipisahin ke tempat lain.”
Emak gue: “Iya.”
Hah diselametin? Seolah-olah ikannya jadi korban Tsunami -_- sekalian aja dievakuasi dan diungsikan.
Pas gue ngelewatin SD gue dulu, gilaa, abang-abang tukang ikan Cupang atau tukang ikan hias dikerubutin anak-anak SD. Dari zaman dulu gue di SD, juga gitu, sih, tukang jajanan selalu rame dikerubutin bocah-bocah. Yang gue heran, gimana cara abang-abang tukang ikan Cupang ngejual dagangannya ke anak-anak SD yang belum tau banyak hal ini? Apa mungkin abang-abang tukang ikan Cupang ini menggunakan cara yang sama dengan mbak-mbak SPG baju di mall?? Abang-abang tukang ikan Cupang akan berteriak seperti mbak-mbak SPG.
Abang-abang tukang ikan Cupang: “BOLEEEH KAKAK IKAN CUPANGNYA..BOLEH, DILIHAT-LIHAT AJA DULU BOLEH, BUAT HIASAN RUMAH, BUAT MAKANIN JENTIK-JENTIK NYAMUK JUGA BISA, BUAT TEMEN CURHAT JUGA BISA!! BOLEH KAKAK SILAHKAN!”
dengarkan sugesti saya
Lalu anak-anak SD yang masih polos mulai terhipnotis dan mengelilingi abang-abang tukang ikan Cupang dan melakukan proses tawar menawar.
Anak SD (1): “Bang ikan yang ini harganya berapa?”
Abang-abang tukang ikan Cupang: “Murah kok, Dek, cuma dua rebu.”
Anak SD (1) yang udah terhasut mendengar kata MURAH, langsung bilang: “Oke bang bungkus, saya ambil yang ini!”
Anak SD (2): “Bang yang ini harganya berapa?”
Abang-abang tukang ikan Cupang: “Oh itu murah, cuma goceng.”
Anak SD (2) yang uang jajannya keburu abis buat jajan yang lain, bakal bilang: “Yah Bang mahal amat, Amat aja gak mahal! Gak bisa gopek aja apa Bang?”
Abang-abang tukang ikan Cupang: “Gak bisa, kalo mau yang ini aja nih, murah cuma dua rebu kok.”
Anak SD (2) itu melengos gara-gara dia gak berhasil mendapatkan ikan Cupang impiannya yang buntutnya asoy kayak kipas itu, dia juga gak mau di suruh beli ikan Cupang yang biasa aja. Akhirnya dia memutuskan untuk membelinya besok, dia pun pulang dengan tangan kosong. Kasihan.
Yang ini cerita fiksi sih. :D
Ketika sore hari, Dhini lewat di depan gue. Gue nanya ke Dhini.
Gue: “Dhin, gimana ikan Cupangnya, sehat?”, ini emang pertanyaan ngaco -_-
Dhini: “Sehaat? Emangnya dia bisa sakit? Emangnya dia orang, apa?”
Gue: “. . . . “
Satu hal yang mungkin Dhini belum tau, binatang juga bisa sakit, binatang juga manusia (lho?), maksud gue, binatang juga makhluk hidup. “Hidup ikan Cupang!” “HIDUUP!” *berasa lagi orasi :D
Langganan:
Postingan (Atom)


