Minggu, 22 April 2018

Aneh

Assalamu'alaikum. 
Apa kabar?
Semoga selalu di dalam lindungan Allah ya semuanya.

Di postingan sebelum ini, saya bingung, kenapa ukuran tulisannya jadi kecil banget, padahal font sizenya udah saya atur ukuran normal. Setelah dipost yang muncul malah kecil banget tulisannya.
Saya udah coba edit, tapi hasilnya masih sama. Mungkin sekitar 5 kali saya ngedit tapi hasilnya masih sama.


Kecil banget kan tulisannya?



Saya cek dari HP, hasilnya pun sama, tulisannya kecil banget. Tapi kalo dari HP bisa dizoom sih.

Semoga di postingan kali ini udah normal lagi.

Aneh ya..

Apa karena saya copy paste dari status facebook saya kali ya?

Tapi kalo tulisannya udah normal lagi, berarti saya berhasil ngeditnya.

Tapi kalo belum, mungkin ada yang bisa bantu saya?

Just give a comment on this posting. Thank you.

Wa salamu'alaikum.

Sabtu, 14 April 2018

Keseruan Belajar di Kelas Revowriter 7

Malam yang saya tunggu2 akhirnya datang juga. Penasaran ya? Simak terus sampai akhir.

Selasa malam jam 19.45 - 21.45 adalah jadwal training menulis online di kelas Revowriter (basic)
Buat temen-temen yang belum tau tentang Revowriter, nih saya kasih tau.


Revowriter adalah komunitas belajar nulis yang digagas oleh Mbak Asri Supatmiati, seorang Ibu Rumah Tangga, Pejuang Dakwah dan Penulis yang telah menulis 10 buku. Maa syaa Allah tabarakallah.


Revowriter diambil dari kata revolution dan writer. Harapannya agar orang-orang yang belajar nulis di komunitas ini bisa menjadi penulis yang membawa perubahan menuju peradaban mulia yang gilang gemilang yaitu peradaban Islam. Allahu Akbar!


Pagi hari sebelum kelas di mulai Mbak Asri udah woro-woro ngingetin jam belajar, nyuruh ngisi quota dan charge handphone. Dari pagi sampai menjelang kelas dimulai antusiasme peserta terus berdatangan memenuhi notifikasi.
Jam 19.53 WIB, Mbak Asri mulai membuka kelas, memberi tahu adab belajar di kelas Revowriter, dan mengingatkan bahwa proses belajar akan berlangsung cepat, interaktif dan berisik, beliau juga mengingatkan utk mematikan notifikasi. Tanpa disuruh pun, notifikasi saya udah mode off atau vibrate mode karena ikut beberapa grup dan khawatir terjadi perang dingin antara grup-grup itu, wkwkw, minta dibaca duluan.
Kelas dimulai dengan beberapa pertanyaan, mulai dari siapa penulis yang kamu kenal, kenapa mereka disebut penulis, dll.


Benar apa kata mbak Asri; kelas akan berlangsung cepat, interaktif dan berisik.


Baru aja mbak Asri ngepost pertanyaan, langsung deh belasan sampe puluhan chat jawaban dari peserta berbaris ke bawah.


Dalam hati, "Ini kapan gue ngejawab pertanyaannya nih kalo ketimpa chat dari peserta lain?"


Langsung saya scroll up pertanyaannya dan ngetik jawaban secepat yang saya bisa
Oh ya saya mau kasih tips, biar kita bisa langsung jawab pertanyaan dan nyimak materi, kita harus stay di depan layar jangan disambi-sambi ya, hehe, kecuali mendesak. Jangan fokus baca-baca jawaban atau komentar peserta lain, itu mah bisa dibaca nanti setelah kelas selesai, kecuali kalo kamu mau jadi silent reader. Pokoknya fokus aja sama materi atau pertanyaan dari trainer.
Di kelas perdana ini, peserta diberi motivasi tentang pentingnya menulis bukan sekadar menjadi penulis.


Kita pun harus mengubah mindset kita bahwa penulis itu bukan hanya seperti Tere Liye, Dee Lestari, atau Andrea Hirata. Orang-orang yang ingin menyampaikan ilmu atau gagasannya, juga bisa disebut penulis. Maka dari itu, siapa pun yang memiliki ilmu, BISA menulis!


Kata mbak Asri, "Menulis adalah seni menyampaikan kebenaran. Kalau orang berilmu tidak menulis, orang bodoh yang akan menyebarkan kesesatan."
Waah maa syaa Allah. Jadi lebih semangat untuk menulis.
Yuk mulai menulis, jangan tunggu sempurna, nanti nggak action-action, menulis dan berproseslah


Pastinya nulis tulisan yang bermanfaat, dan juga benar ya, benar menurut Yang Maha Benar yaitu Allah subhanahu wa ta'ala.


Di akhir kelas, mbak Asri memberi 2 tugas, dan yang saya tulis ini adalah salah satunya. 
Gimana?
Tergambar kan keseruan belajar di kelas Revowriter?


Kamu mau ikut kelas Revowriter juga? (malah promo 😂)


Sabar ya para pembaca yang budiman, in syaa Allah beberapa bulan lagi Revowriter buka kelas baru.
Kelas saya aja baru mulai, hehe 😁

Sekian postingan dari saya, tunggu dan simak postingan selanjutnya. [Annavi]


Jakarta, 11 April 2018

Arlin Navigati

Calon Revowriter Army


#revowriter
#revowriter7
#belajarnulis
#Annavi

Minggu, 01 April 2018

Pelangi Kala Senja


Senja hari selepas halaqoh, saya dan 2 orang teman saya segera pamit pulang kepada tuan rumah.

Salah satu teman saya ada yang melihat ke langit dan berkata, "Ih ada pelangi, foto ah." dengan segera teman saya langsung mengambil smartphonenya sementara teman saya yang satu lagi sudah pulang.

"Ih, iya. Momen langka nih harus diabadikan." Nggak mau kalah dgn teman saya, saya segera mengambil smartphone di tas dan mengaktifkannya. Setelah hand phone saya aktif lagi, saya mengamati langit sebentar tapi kok ada yang beda ya dibanding yang tadi. Setelah saya abadikan, yaa seperti yang temen-temen bisa lihat di hasil foto 😂. Pelanginya sudah pudar. Padahal mengaktifkan hand phone cuma sebentar, mungkin 2-3 menit tapi Allah sudah menyuruhnya pulang.
Ia hanya diperbolehkan bermain sebentar saja menghias langit sore untuk memanjakan sepasang mata insan yang dikehendaki Allah. Maa syaa Allah.

Jika kita adalah pelangi itu, apakah kita siap untuk "pulang"?

Siapkah kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan di dunia ini?

Dan tahukah temen-temen, bicara soal pelangi, ada beberapa kelompok yang kini menyalahartikan makna pelangi.

Mereka adalah kelompok-kelompok pemuja kebebasan, terutama yang orientasi seksualnya menyimpang. Sebut saja Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau Transeksual.

Mereka bersatu padu saling mendukung satu dengan yang lain, membentuk kekuatan politik global yang mendunia, melakukan kampanye-kampanye sesat atas nama hak asasi manusia, atas nama kebebasan agar eksistensi mereka diterima dan dihargai masyrakat luas.

Sungguh perilaku mereka adalah perilaku yang dilaknat Allah. Allah sangat melaknat perbuatan kaum sodom hingga Allah menjungkirbalikkan dunia beserta isinya. Subhanallah, na'udzu billah.

Mungkin para aktivis LGBT dan pendukungnya berpendapat bahwa aktivitas yang mereka lakukan adalah aktivitas yang wajar, indah, dan nikmat bagaikan surga dunia. Mereka lupa bahwa indahnya "pelangi" hanya sebentar dan akan "pulang" ke tempat asalnya.

Kembalillah pada Allah selagi masih ada waktu.

Wallahu a'lam bishowab.

(annavi)

Kamis, 08 Februari 2018

Lebih Baik dipaksa Masuk Surga daripada Suka Rela Masuk Neraka

Judul di atas pernah saya baca di komentar sebuah fanpage Islam.
Dan memang benar masuk surga itu penuh perjuangan, sedangkan masuk neraka itu gampang. Meskipun saya belum pernah berkunjung ke kedua tempat tersebut. Kan ada Al-Qur'an dan Al-Hadist yang menjelaskannya.

Saya juga pernah baca, "Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak kita sukai, sedangkan neraka itu dikelilingi oleh hal-hal yang kita sukai."

Untuk masuk surga kita harus sholat 5 waktu, dan melaksanakan kewajiban lainnya. Kalau orang yang tidak beriman pasti akan berpikir bahwa sholat 5 waktu itu melelahkan, untuk apa sholat, sholat gak ada untungnya buat saya. Tapi bagi kita yang beriman, atas dasar keimanan kita mau melaksanakannya. Mungkin awalnya sulit untuk membiasakan, harus ada paksaan dari orang lain, maupun diri sendiri. Tapi jika sudah berlangsung secara rutin, tentu kita akan terbiasa. Kalau kata Dzawin Nur Ikram: "Dipaksa, terpaksa, terbiasa." (comic SUCI 2014).

Kalau Neraka itu dipenuhi hal-hal yang manusia sukai. Contoh riba', siapa coba yang gak mau dapet untung besar? Contoh lagi buka aurat. Untuk apa tutup aurat mendingan buka aurat, untuk apa pakai kerudung dan jilbab, kan gerah. Nah secara gak sadar dan sukarela, dengan sendirinya akan masuk neraka.

Intinya untuk mendapatkan hal yang istimewa (surga: pada konteks ini) kita harus berjuang. Dan berjuang butuh pengorbanan. Dan harus diniatkan karena Allah. Wallahu a'lam bishowab.

#NulisRandom2015
#01_06_2015

Selasa, 29 November 2016

Tangan di atas



TANGAN DI ATAS

Pagi ini ketika aku dalam perjalanan menuju kampus, aku melihat seorang wanita berjilbab dan berkerudung hitam yang memberikan sebungkus nasi kepada seorang laki-laki pengumpul barang bekas. Laki-laki itu menerimanya dengan penuh rasa terima kasih. Di wajah perempuan itu terlukis senyum yang sangat tulus ketika memberikan nasi bungkus itu. Lalu ia menghampiri suaminya –entahlah itu suami atau kakak laki-lakinya, aku tidak begitu tahu-- yang menunggunya di motor beberapa langkah di depannya. Aku memperhatikannya dari dalam angkot, sepertinya mereka akan segera bergegas dari tempat itu. Baru sebentar aku mengedarkan pandangan mataku ke sekeliling tempat itu, mereka sudah pergi entah ke mana.

Pemandangan pagi ini membuat hatiku terenyuh, sungguh sangat menyentuh perasaan. Hal yang kecil memang, tapi apakah setiap orang bisa melakukannya? Dalam hati aku bertanya-tanya, “Ya Allah, kapan aku bisa seperti itu? Kapan aku bisa menolong salah satu atau beberapa orang yang tinggal di jalanan melalui tanganku?”. Tiba-tiba aku tersadar bahwa mengurus orang-orang yang tidak mampu adalah salah satu tugas negara, bukan individu, bukan juga kelompok. Tapi negaralah yang bisa melakukan itu semua. Saat ini orang-orang yang kelihatannya tidak mampu, sesungguhnya mereka miskin tersistem. Sistem kesejahteraan sosial hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu sementara mereka yang hidup di jalanan tidak mendapatkan haknya.

Ya Allah, aku hanya bisa memberikan sedikit kontribusi dan berdoa saat ini.. Semoga kelak akan ada sistem yang adil bagi orang kaya dan orang miskin, sistem yang akan membuat semua manusia sadar akan hak dan kewajibannya. Aku percaya Ya Allah, bahwa sistem itu adalah sistem Islam, sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah Rosyidah Islamiyyah seperti yang Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam contohkan. Ya Allah semoga sistem tersebut segera hadir di tengah-tengah umat Islam agar kesejahteraan dapat dirasakan semua kalangan, aamiin.


29 November 2016, ditulis di beranda masjid P.B. Jenderal Soedirman, Cijantung, Jak-Tim

Note: Meskipun mengurusi orang-orang yang tidak mampu adalah salah satu tugas negara, bukan berarti kita tidak boleh menolong orang tersebut, boleh saja. Tapi akan lebih efektif jika negara yang melakukannya.

Selasa, 08 Maret 2016

Semester Empat Itu . . . .

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh..

Apa kabar? Hehe. Setelah 1 tahun blog ini gak di up date, akhirnya saya up date juga hari ini.
Terakhir kali saya up date itu pas semester 1, dan sekarang udah semester 4. Wiiih lama juga ya.. Ya alhamdulillah bisa kuliah sampe semester 4 tanpa ada halangan harus ngulang. IPK juga lumayan lah.

'Semester 4 itu kayak gimana, Lin?'

Waduh kalo ditanya kayak gitu..gimana ya jawabnya..

Pokoknya semester 4 itu... er.. gak enak sih bilangnya, tapi ya udah deh. Semester 4 itu... BANYAK TUGAS.

:D hehe

English for Tourism, Ilmu Alamiah Dasar, Writing, English for Specific Purposes, Vocabulary, daaan mata kuliah lainnya.

Kata kakak senior, semester 4, 5, 6 itu lagi jenuh-jenuhnya. Semoga aja saya gak jenuh. Aaamiin.

Iyak betul semuanya pasti bisa selesai kok. Harus diselesaiin dengan penuh tanggung jawab. Yaa namanya juga mahasiswi.

Semuanya pasti bisa selesai karena ada Allah. Karena Allah gak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambanya. Itu!

Ya udah, segini aja curhat singkat dari saya disela-sela ngerjain tugas. Semangat buat temen-temen yang lain, yang juga semester 4, atau yang masih kuliah. Pasti bisa kok, pasti selesai kok. Pasti!

See you on the nekst post..

Wassalamu'alaikum



*huruf 'eks'-nya gak bisa, entah apa yang terjadi pada keyboard ini.

Selasa, 16 September 2014

Kabar Terbaru

Kabar terbaru untuk kita semuaa~ 
Jyeh malah nyanyi, haha

Jadi gini, gue sekedar mau ngasih kabar terbaru gue aja gitu, kali aja ada yang penasaran hehe.

Alhamdulillah sekarang gue udah kerja sebagai guru freelance di salah satu tempat les Bahasa Inggris dan komputer. Kira-kira udah ada sebulan.

Gue dapet info lowongan kerja ini dari Miss. Umi, dia bilang di sana ada muridnya yang jadi staff, namanya Dira. Karena tempatnya cukup deket dari rumah, gue berniat untuk menaruh lamaran kerja di sana. Setelah mempersiapkan lamaran, gue pun berangkat ke tempat les itu. Di sana, gue ditanya-tanya dulu sebentar, abis itu gue langsung disuruh ngerjain test TOEFL! Bayangin, tanpa persiapan, tanpa kamus. You pasti know lah ya, kalo soal TOEFL itu banyak banget, sampe ratusan. Abis itu gue diantar ke sebuah ruangan utuk ngerjain soalnya, di ruang itu gue cuma sendiri, dan ruangan itu berAC. Untungnya gue gak beku di ruang itu. Setelah selesai ngerjain test itu, gue pulang. Beberapa hari setelah test itu, gue sering dapet telpon mendadak untuk proses selanjutnya.

Nah sekarang gue pengen cerita pas pertama kali gue ngajar..
Lo tau gak, sebelum jadi guru tuh ada tes yang namanya micro teaching, ini semacam tes tentang bagaimana kita mengajar murid. Jadi tuh kita praktik mengajar di depan murid, dan nanti ada orang lain yang menilai cara kita mengajar, gitu. Pas pertama kali ngajar, gue grogi banget, bayangin, lo ditelpon 30 menit sebelum mengajar! It means that you don't have more preparation to teach. Ya udah, gue mengajarkan materi yang pernah gue dapet aja waktu zaman gue sekolah. Dan untungnya, murid-murid gue masih kelas 2-6 SD. Jadi materi yang gue ajarkan belum terlalu sulit dan gue pun cukup menguasai materi-materi yang akan gue ajarkan.
Waktu itu ada guru laki-laki yang menilai cara gue mengajar, dia juga yang menginterview gue. Pas di kelas, sebelum ngajar, gue memperkenalkan diri gue ke murid-murid, dia juga. Dia biasa dipanggil Mr. Sonang. When I first saw him, gue kira umur dia 25 tahun..ternyata pas selesai interview, dia bilang: I'm one year older than you. Kalo gue gak salah denger sih, dia bilang begitu. Well, umur gue sekarang 19 tahun, berarti umur dia 20 tahun, berarti perkiran gue meleset, gue syok, shock. Abis gimana ya dia tinggi, terus pembawaannya dewasa, ya gue gak nyangka aja gitu. Kayaknya perkiraan gue kalo nebak umur temen laki-laki yang baru ketemu tuh salah mulu dah, haha. Waktu itu juga pernah salah nebak umur temen gue yang laki-laki, prediksi gue umurnya 20 tahun, gak taunya dia seumuran sama gue.
Ya wajar lah ya kalo laki-laki itu terlihat dewasa, meskipun ada juga perempuan yang terlihat dewasa. Soalnya kan nanti laki-laki jadi pemimpin di mana-mana, jadi memang harus bisa bersikap dewasa. Beda banget sama gue yang ke mana-mana dikira anak sekolahan, hahaha.
Sering ditanya orang ditempat umum kayak gini:
"Dek, sekolah di mana?"
"Dek, umurnya berapa?"
"Dek, uang jajan kamu berapa?"
Begitulah~

Oh ya, Alhamdulillah gue diberikan kesempatan oleh Allah untuk melanjutkan pendidikan. Sekarang gue kuliah di salah satu kampus swasta di Jakarta Timur. Gue ngambil jurusan pendidikan bahasa Inggris. Namanya juga baru pertama kali kuliah, jadi gue masih bingung. Gue ngelihat seorang kakak yang satu kelas sama gue waktu ikut pelatihan akun Google, namanya Kak Delis. Gue samperin dia, dan gue tanya ke dia. Dia bilang gue harus ngisi KRS dulu. Karena gue belum tau tempatnya, akhirnya gue diantar Kak Delis untuk ngisi KRS. Kak Delis juga meminjamkan kertas jadwalnya untuk gue salin. Kak Delis bilang kalau dia mahasiswa konversi, dia udah lulus D3 dan ngelanjutin ke S1 sekarang. Kita berdua balik lagi ke kelas yang tadi. Gue ngisi KRS di kelas. Kak Delis bilang, "Ini jadwalnya kamu pegang dulu ya, sekarang aku mau ke semester 3 dulu, nanti aku balik lagi ke sini kok.". Karena bingung, gue cuma jawab, "Oh, iya Kak.".

Sepertinya udah mau masuk jam pelajaran pertama, dan anak-anak yang lain juga udah banyak yang dateng. Setelah kita nungguin dosennya, ternyata dosennya gak hadir. Akhirnya kita yang ada di kelas saling kenalan. Baru pertama kenal aja kita udah cerita banyak hal, dan juga selfie-selfie, selfie rame-rame tentunya. Ada yang namanya Shara, dia tuh orangnya rame banget. Kalo dia berhenti cerita, suasana kelas jadi hening kayak di kamar jenazah haha. Karena udah masuk waktu Ashar, kita yang muslim pergi ke masjid. Di deket kampus ada masjid, namanya masjid Soedirman. Pas mau jalan ke masjid, gue ketemu Kak Delis, "Hai Arlin, kamu bawa jadwal aku gak?", tadi pas nganterin gue ngisi KRS, Kak Delis nanya nama gue. "Bawa Kak.", kata gue. Lalu gue duduk di kursi dan ngubek-ngubek tas gue. Akhirnya jadwal yang nyelip itu ketemu, "Ini Kak jadwalnya, makasih yaa.". "Iya sama-sama. Kamu mau ke mana Lin?". "Ke masjid Kak.", kata gue. "Oh ya udah, sholat dulu gih sana. Aku juga abis sholat kok.", kata Kak Delis. "Ya udah Kak, aku duluan yaa.", kata gue. Lalu gue menyusul temen-temen yang udah duluan. Setelah sholat Ashar, kita duduk-duduk di teras masjid, dan selfie lagi -_- bener-bener narsis ini kelas. Setelah itu kita balik ke kelas karena waktu istirahatnya cuma sebentar. Ternyata pelajaran ke 2 juga gak hadir dosennya. Waktu yang ada kita gunakan untuk perkenalan lagi, dan saling tukar cerita. Satu jam berlalu, waktu Maghrib pun tiba. Kita pergi ke masjid, setelah itu makan di warung tenda di seberang kampus. Di depan kampus  gue tuh banyak banget warung tenda, pedagang kaki lima. Mulai buka dari pagi sampe malem. Jadi lo bisa sekalian wisata kuliner kalo lagi mampir ke kampus gue. Kok gue jadi promosi gini yak, hehe. Kayak Mbak-Mbak SPG di mall, bedanya ini di kaki 5, mungkin pedagangnya akan teriak-teriak untuk menarik perhatian calon pembeli, "Boleh kakak, nasi gorengnya kakak, silahkan mampir kakak.". Oke abaikan saja imajinasi gue. Gue nemenin Tia makan, tapi gue gak makan karena masih kenyang. Kita ngobrol-ngobrol juga, ternyata Tia itu lulusan pondok pesantren. Tia cerita tentang peraturan-peraturan pondok yang ketat banget, dia juga cerita banyak hal, mungkin kalo gue ceritain di sini, postingan ini bisa jadi novel kali ya, hehe. Setelah Tia selesai makan, kita langsung ke kelas. Pelajaran ke tiga, dosennya hadir dan kita belajar structure 1. Kita selesai belajar jam setengah 9 malem, abis itu gue langsung pulang ke rumah.
Karena masuk sore, pulang malem, gue harus cepet pulang supaya bisa dapet kendaraan umum.

Alhamdulillah temen barunya seru-seru, semoga ke depannya gue bisa menjalin pertemanan yang baik. Sampe sini dulu cerita gue, next time gue sambung lagi.

Wassalamu'alaikum.